Malam Panas dengan Tante Rina
Panasnya malam ini terasa lebih menyengat daripada biasanya. Kipas angin di kamarku berputar pelan, tak cukup untuk meredam hawa yang membuat kulitku berkeringat. Aku berbaring di kasur, mata terasa berat, tapi rasanya mustahil untuk tidur. Pikiranku masih samar-samar ketika pintu kamarku sedikit terbuka.
"Masih bangun?" suara itu seperti tetesan madu di tengah kesunyian malam. Tanteku, Rina, berdiri di ambang pintu dengan baju tidur sutra yang lebih tipis dari seharusnya. Cahaya lampu jalan menyorot siluet tubuhnya, mempertegas lekuk-lekuk yang seharusnya tak boleh kulihat begini dekat.
Dia melangkah masuk tanpa menunggu jawabanku. Aroma parfumnya—vanila dan sesuatu yang lebih dalam—menyergap indra penciumanku sebelum tangannya yang hangat menyentuh bahuku.
"Kelihatan lelah," bisiknya sambil duduk di tepi kasur. Tangannya tidak berhenti di bahuku; jemarinya merayap pelan ke leherku, memainkan lingkaran-lingkaran kecil di kulit yang seketika merinding. Napasku tersendat saat bibirnya hampir menyentuh telingaku.
"Tante..." suaraku serak, tapi dia sudah menaruh satu jari di bibirku, menyuruhku diam.
"Jangan bicara," dia bernapas pendek, "aku hanya ingin memastikan keponakanku baik-baik saja." Tapi gerakannya sama sekali tidak bersifat ‘memastikan’. Satu tangannya sekarang menelusuri dadaku, dan aku bisa merasakan betapa cepat jantungku berdetak.
Dia mendekatkan wajahnya, dan untuk sesaat, aku pikir dia akan menciumku—
Pilih apa yang terjadi selanjutnya — cerita berlanjut di perpustakaanmu.