Komunitas
Penulis: Tim SinStories10 Sep 2026

Dua minggu di tepi laut

Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa romansa liburan itu akan berakhir di bandara. Tapi lelaki dari bar pantai itu ingat nomor kamarnya, dan malam-malam terasa panjang, hangat, dan penuh keputusan salah yang indah. Menjelang malam kedua, aturan yang ia buat untuk dirinya sendiri mulai luruh satu per satu — dan ternyata ia sama sekali tidak keberatan.

Lara mengembuskan napas berat sambil naik menuju kamar hotelnya. Ini baru malam keduanya di pulau itu dan pesta pantai tadi menyenangkan, tapi ia kelelahan. Ia hanya ingin mandi air panas, memakai piyama, dan tumbang di kasur sampai pagi.

Saat membelok di tikungan, ia nyaris menabrak sosok tinggi berotot.

"Aduh! Maaf," gumamnya sambil mendongak. Lalu membeku.

Itu dia. Lelaki dari bar pantai, yang semalam membuatnya tertawa selama tiga jam. Rahang tegas, mata biru menusuk, dan senyum santai yang membuat jantungnya berpacu. Luca. Ia sudah memberikan nama palsu dan tidak memberi nomor, tapi lelaki itu tetap menemukan lantainya.

"Hei," katanya dengan suara rendah dan menggoda. "Kebetulan sekali."

Lara menelan ludah. Ia seharusnya menyuruh lelaki itu pergi. Ia sudah menetapkan tiga aturan di pesawat: tidak ada nama asli, tidak ada nomor, tidak ada yang ikut pulang bersamanya. Dua minggu, lalu bandara, lalu hidupnya yang biasa. Hentikan sekarang, sebelum semuanya lepas kendali.

Tapi lelaki itu melangkah mendekat, tangannya menyerempet tangan Lara saat meraih gagang pintu.

"Sepertinya malammu panjang," gumamnya. "Bagaimana kalau aku masuk dan membantumu... santai?"

Sebelum Lara sempat memprotes, ia sudah dalam pelukan lelaki itu, bibirnya menghantam bibir Lara dalam ciuman membakar. Lara meleleh, tubuhnya menyambut secara naluriah meski pikirannya berteriak agar berhenti.

Lelaki itu menekannya ke dinding, tangannya menjelajahi lekuk tubuhnya sambil menciumnya dalam-dalam.

"Sialan, aku menginginkanmu sepanjang minggu ini," geramnya. "Aku nggak bisa berhenti memikirkanmu. Aku harus mendapatkanmu."

Kata-katanya mengirim getar hasrat ke sekujur tubuh Lara. Ya Tuhan, kapan terakhir kali ada yang bicara padanya seperti itu? Dengan nafsu sementah itu, tanpa saringan.

"Kumohon," ia mendapati dirinya memelas kehabisan napas. "Aku butuh kamu. Aku butuh ini."

Lelaki itu menyeringai nakal, matanya berkilat dengan janji gelap.

"Kalau begitu jangan buang waktu lagi."

Dengan satu gerakan cepat ia mengangkat Lara dan membawanya masuk, menutup pintu dengan tendangan. Bibirnya kembali menemukan bibir Lara saat ia membaringkannya di ranjang, tubuhnya menekan Lara ke kasur.

Dalam satu gerakan mulus ia melepas atasan bikini Lara dan melemparnya sembarangan. Ia menunduk, mulut panasnya mengatup pada satu puting yang menegang sementara tangannya menyelinap di antara kaki